My First Love

Dunia akan terasa menyenangkan jika kita dapat berkomunikasi dengan orang lain. Namun jika kita tidak dapat melakukannya, dunia akan terasa sepi. Menyakitkan rasanya bila kita harus menyimpan suatu masalah dalam hati tanpa menceritakannya pada orang lain.

Namaku Yuki. Tahun ini, aku duduk di kelas 3 SMP. Hari ini adalah hari dimana aku akan berada di kelas baru dan bertemu dengan teman-teman baru. Meski begitu,aku belum bisa berbicara dengan orang lain.
Sejak berumur 10 tahun, aku tak pernah bicara dengan siapapun bahkan dengan orang tuaku. Itu semua terjadi karena kematian ibuku. Ibu meninggal karena ayah selalu bersikap kasar padanya. Setiap hari ayah selalu mengatakan kata-kata kasar pada ibu.

Termenung Sejenak

Ketika sejenak ku termenung,
Tiada bayangan laen selain dirimu,
Ketika sesaat ku bingung,
Masihkah ada cinta d dirimu,

Andai kini kulepas hasrat hati,
Andai kini ku ungkap rasa d jiwa,
Mungkinkah semua akan terlewati,
Seperti biasa tanfa ada rasa curiga,

Kini kukembali pada kenangan,
Yang dulu sempat usang,
Waktu kini membawa kembali datang,
Dalam sekejap kuraih dalam genggaman,

Akankah kenangan membawa bahagia?
Atau hanya akan menghancurkan rasa?
Tapi kini kuyakinkan semua,
Bahwa yang nyata tak selalu tercipta...

Menangis Sebentar Saja....

Aku ingin menangis sebentar saja,
Bukan karena aku cengeng,
bukan karena aku tak punya pikiran, yang bodoh menyelesaikan masalah dengan tangisan!!!
aku hanya ingin meluapkan sedikit sakit ku ini,
agar ia mengalir bersama air mata ku,
lalu kering karena hembusan angin,
dan kemudian......
HILANG

By; qyqy

Air mata Bumi

Dulu...
Pemandangan hijau begitu lapang
Buat mata nan tubuh
Terasa segar

Namun...
Kini bumi mulai nangis
Marah sebab kecewa
Pada ulah dan tingkah manusia

Sadarkah kalian?
Banjir,
Longsor,
Gempa bumi,
Itu bagian dari air mata bumi yang marah

Sadarlah wahai manusia!
Renungkan semua ulah dan tingkahmu,
Renungkan nasib anak cucumu kelak
Sebab air mata bumi
Kini mulai berjatuhan

By; Aniqotul Himmah

Batin

Langit Hitam
gumpalan awan berkerumunan
gemuruh saling bersahutan
bertemankan hujan
yang perlahan
membasahi bumi pertiwi


Lampu kupejamkan
sembari menyebrangi sepi
menanti bulan di atas kuburan
menunggu maut yang sebentar lagi menjemput


Yang kubawa hanya perih
yang ku ucap hanya pedih
yang ku catat hanya sakit
hatiku penuh luka
Luka abadi yang kau berikan padaku 

By; Yulianti Megantari
Cerita Kita. Diberdayakan oleh Blogger.