Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Tampilkan postingan dengan label Puisi Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Demi negeri
Kau korbankan waktumu
Demi bangsa
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang didepan
Kau bilang itu hiburan
Nampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara dijiwamu
Taklukkan mereka penghalang negeri
Hari-harimu diwarnai
Pembunuhan, pembantaian
Dihiasi bunga-bunga api
Kau korbankan waktumu
Demi bangsa
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang didepan
Kau bilang itu hiburan
Nampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara dijiwamu
Taklukkan mereka penghalang negeri
Hari-harimu diwarnai
Pembunuhan, pembantaian
Dihiasi bunga-bunga api
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Kabut,
Dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi
Mendung,
Pertandakah hujan deras
Membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral
Serbu.... Merdeka atau mati.. Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan terkasih menahan terpaan belati
Untuk ibu pertiwi..
Kini kau lihat,
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindungan-Nya selalu dihatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi..
Oleh: Zshara Aurora
Dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi
Mendung,
Pertandakah hujan deras
Membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral
Serbu.... Merdeka atau mati.. Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan terkasih menahan terpaan belati
Untuk ibu pertiwi..
Kini kau lihat,
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindungan-Nya selalu dihatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi..
Oleh: Zshara Aurora
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Merah putih!
Dulu, sebelum kau berkibar di tiang tinggi
Dibelai, dipeluk angin merdeka,
Engakau hanya lambang harapku,
Meski kau mewakili bangsa tidak berdaya,
Tidak bernama di sejarah dunia,
Namun kau tersimpan dalam hatiku,
Lambang kasihku pada nusaku.
Merah putih!
Kini, kulihat kau terkibar di tengah bangsa
Lambang kebangsaanku di timur raya,
Engkau panji perjuanganku
Mengejar kemuliaan bagi bangsaku,
Dan demi tuhan pencipta bangsaku,
Selama masih bersiut nafas didada,
Denyut darahku penyiram medan
Ta'kan kembali kau masuk lipatan!
Dulu, sebelum kau berkibar di tiang tinggi
Dibelai, dipeluk angin merdeka,
Engakau hanya lambang harapku,
Meski kau mewakili bangsa tidak berdaya,
Tidak bernama di sejarah dunia,
Namun kau tersimpan dalam hatiku,
Lambang kasihku pada nusaku.
Merah putih!
Kini, kulihat kau terkibar di tengah bangsa
Lambang kebangsaanku di timur raya,
Engkau panji perjuanganku
Mengejar kemuliaan bagi bangsaku,
Dan demi tuhan pencipta bangsaku,
Selama masih bersiut nafas didada,
Denyut darahku penyiram medan
Ta'kan kembali kau masuk lipatan!
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Setahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar didadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingin bila mana dia datang
Kedua tanganya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang tampak, wajah-wajahnya sendiri yang takdikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senym bekunya mau berkata "aku sangat muda"
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar didadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingin bila mana dia datang
Kedua tanganya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang tampak, wajah-wajahnya sendiri yang takdikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senym bekunya mau berkata "aku sangat muda"
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Akhirnya takterlawan olehku
Tumpah dimataku, dimata sahabat-sahabatku
Ke hati kita semua
Bendera-bendera dan bendera-bendera
Bendera kebangsaanku
Aku menyerah kepada kebanggan lembut
Tergenggam satu hal dan kukenal
Tanah dimana kuberpijak berderak
Awan bertebaran saling memburu
Angin meniupkan kehangatan bertanah air
Semat getir yang menikam berkali
Makin samar
Mencapai puncak kepecahnya bunga api
Pecahnya kehidupan kegirangan
Menjelang subuh aku sendiri
Jauh dari tumpahan keriangan dilembah
Memandangi tepian laut
Tetapi aku menggengam yang lebih berharga
Dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
Makin bercahaya makin bercahaya
Dan fajar mulai kemerahan.
Tumpah dimataku, dimata sahabat-sahabatku
Ke hati kita semua
Bendera-bendera dan bendera-bendera
Bendera kebangsaanku
Aku menyerah kepada kebanggan lembut
Tergenggam satu hal dan kukenal
Tanah dimana kuberpijak berderak
Awan bertebaran saling memburu
Angin meniupkan kehangatan bertanah air
Semat getir yang menikam berkali
Makin samar
Mencapai puncak kepecahnya bunga api
Pecahnya kehidupan kegirangan
Menjelang subuh aku sendiri
Jauh dari tumpahan keriangan dilembah
Memandangi tepian laut
Tetapi aku menggengam yang lebih berharga
Dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
Makin bercahaya makin bercahaya
Dan fajar mulai kemerahan.
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Pagi yang hening
Di saat kesepian menyelubungi sukma
Tiupan pawana menusuk ke tulangku
Kesejukan kian terasa
Daun nyiur melambai-lambai
Di saat kesepian menyelubungi sukma
Tiupan pawana menusuk ke tulangku
Kesejukan kian terasa
Daun nyiur melambai-lambai
Sebagai tanda pemergianku yang mustaid
Meninggalkan desa tercinta
Tempat kelahiranku
Kucuba mengorak langkah
Bagai bergegar seluruh alam
Terasa berat hatiku meninggalkannya
Air mataku yang bening mula berlinangan
Lalu...dengan semangat
Kuterus jua melangkah menuju ke kota
Untuk meneruskan sisa-sisa hidupku
Walau siksa batin terasa
Meninggalkan desa tercinta
Tempat kelahiranku
Kucuba mengorak langkah
Bagai bergegar seluruh alam
Terasa berat hatiku meninggalkannya
Air mataku yang bening mula berlinangan
Lalu...dengan semangat
Kuterus jua melangkah menuju ke kota
Untuk meneruskan sisa-sisa hidupku
Walau siksa batin terasa
Menempuh ranjau yang berbisa
Penuh noda dan dosa
Namun...
Semangatku takkan luntur
Bahkan...
Jiwa membara menyala-nyala
Pengorbananku...
Optimis mindaku
Berani...proaktif...prinsipku
Inayat dari Tuhan kupohonkan
Pasti...pasti kejayaankan kucapai
Dalam perjuangan ini.
Namun...
Semangatku takkan luntur
Bahkan...
Jiwa membara menyala-nyala
Pengorbananku...
Optimis mindaku
Berani...proaktif...prinsipku
Inayat dari Tuhan kupohonkan
Pasti...pasti kejayaankan kucapai
Dalam perjuangan ini.
Cerita Kita. Diberdayakan oleh Blogger.