****
Saya memiliki seorang teman yang terbiasa menjadikan istrinya sebagai bahan lelucon. "Bawel banget, lu! Kayak bini gue!" Katanya suatu hari. Di lain kesempatan, dengan bangga dia menghina istrinya sendiri dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu, katanya, "Gendut-gendut gitu juga bini gue! Gue tidur nggak perlu nyari kasur!"
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Semakin banyak pria yang terang-terangan menghina istri di depan orang lain atau di sosial media. Begitu juga dengan wanita, makin banyak yang tak sungkan mengungkapkan keburukan suami di depan teman-teman atau melalui status sosial media. Maka jadikan tulisan ini sebagai bahan renungan untuk Anda.
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Aku akan berhenti memikirkanmu...
Dan ku akan benar benar
melepaskan ikatan di hatiku...
Dan ku akan benar benar
melepaskan ikatan di hatiku...
Biarlah kau teruskan perjalananmu
tuk jadi yang terbaik
untuk seorang yang ditakdirkan Untukmu,,,
Akupun begitu,,
tuk jadi yang terbaik
untuk seorang yang ditakdirkan Untukmu,,,
Akupun begitu,,
Aku kan melanjutkan perjalananku
untuk jadi yang terbaik
Untuk Seorang yang kan menjadi Imamku
meskipun Itu Bukanlah dirimu...
untuk jadi yang terbaik
Untuk Seorang yang kan menjadi Imamku
meskipun Itu Bukanlah dirimu...
karna kini ku telah yakin,,,
Jika Aku telah menjadi yang terbaik,
maka Allah tetap akan memberiku yang terbaik pula
meskipun Itu bukanlah dirimu...
Ku harap kau mendapatkan yang terbaik,,,
Jika Aku telah menjadi yang terbaik,
maka Allah tetap akan memberiku yang terbaik pula
meskipun Itu bukanlah dirimu...
Ku harap kau mendapatkan yang terbaik,,,
Dan Doakan Aku
agar ku juga mendapatkan yang terbaik
hingga ku bisa tenang dengan Pilihan-Nya
meskipun itu bukanlah dirimu...aamiin .
agar ku juga mendapatkan yang terbaik
hingga ku bisa tenang dengan Pilihan-Nya
meskipun itu bukanlah dirimu...aamiin .
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Diposkan oleh
Uun Nurdiyanto
Demi negeri
Kau korbankan waktumu
Demi bangsa
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang didepan
Kau bilang itu hiburan
Nampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara dijiwamu
Taklukkan mereka penghalang negeri
Hari-harimu diwarnai
Pembunuhan, pembantaian
Dihiasi bunga-bunga api
Kau korbankan waktumu
Demi bangsa
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang didepan
Kau bilang itu hiburan
Nampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara dijiwamu
Taklukkan mereka penghalang negeri
Hari-harimu diwarnai
Pembunuhan, pembantaian
Dihiasi bunga-bunga api
Cerita Kita. Diberdayakan oleh Blogger.